728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 18 Mei 2019

    Kisah Hidup Moh. Sholihin Menginsprirasi Para Penderita Kusta

       Sholihin bersama keluarga tercinta

    SURABAYA (mediasurabayarek.com) –  Meneladani kehidupan Moh Sholihin (47) asal Desa Berondong, Kecamatan Berondong, Lamongan, yang layak dicontoh oleh para penderita kusta untuk bangkit dari keterpurukan dan mampu hidup mandiri.

    Lelaki yang terlahir dari pasangan Mustofa dan Nur Diyah ini, tidak pernah mengira sama-sekali akan mengidap penyakit kusta yang dideritanya. Terlebih lagi, keluarga Sholihin tidak ada riwayat menderita atau mengidap kusta.

     Sholihin yang merupakan adalah anak ketiga dari enam bersaudara ini, mengetahui terkena infeksi kusta untuk pertama kalinya, sekitar tahun 1988 silam.


    “Waktu itu saya masih duduk di bangku SMP kelas 2. Setelah ketahuan menderita kusta, spontan saya merasa takut dan minder,” ucapnya.

    Namun, dengan dukungan dari keluarga yang begitu phobia dengan penyakit kusta yang melanda kawasan  tersebut, mendorong Sholihin untuk sesegera mungkin lekas sembuh dari penyakit yang disebut 'Lepra' di Lamongan itu. 

    “Kalau satu anggota  keluarga  terkena penyakit kusta, selalu menjadi bahan ejekan dari masyarakat. Keluarga saya langsung mengalami stigma dan diskriminasi dari warga setempat,” ujar Sholihin dengan raut wajah sedih.


    Dia selalu merasa disisihkan dan dijauhi dari lingkungan hidupnya.  Setiap harinya, Sholihin selalu mendapatkan perlakuan yang berbeda dibandingkan yang lainnya. 

    Mulai dari tempat tidur, tempat mandi hingga tempat makan dan peralatan makan senantiasa dibedakan dari yang lainnya.


    Bahkan, sampai urusan baju yang kotor sekalipun, harus direndam dalam air mendidih terlebih dahulu. Agar, bakteri mati dan tidak sampai menularkan penyakit kusta pada orang lain.


    “Ada perasaan takut, kalau penyakit kusta itu adalah kutukan dan menurun pada keluarga nantinya. Padahal, menurut keluarga tidak punya silsilah ada yang menderita sakit kusta,” kata Sholohin.

    Selama terinfeksi kusta itulah, dia selalu berusaha  berobat dan tinggal  di rumah, tanpa perawatan intensif. 

    Sholihin yang pingih sembuh total itu, sebenarnya sudah  berobat ke pengobatan alternatif ke sana dan ke sini.

    Tak terhitung lagi ,dia sudah berobat dan berpindah dari satu 
     tempat pengobatan berpindah ke tempat berobat lainya. Semua upaya yang dilakukkanya, itu agar segera semuh dari penyakit  kusta yang dideritanya. 

    “Begitu banyak makanan yang dilarang untuk saya makan. Bahkan tubuh saya  ketika itu, hanya tinggal tulang dan kulit ,” kenang Sholihin.


    Dia merasa hidupnya hancur- lebur. Tak diperbolehkan makanan ini dan itu. Kondisi tubuhnya makin parah. Sholihin sempat berobat di puskesma dekat rumahnya selama setengah tahun lamanya dan mengonsumsi obat rutin.


    “Selama itu pula, saya minum obat dan reaksi obat yang diminum itu cukup mengagetkan. Badan terasa panas dan sebagainya. Saya makin ketakutan dan minder,” cetusnya.


    Nah, ketika ada informasi dari Dinas Kesehatan setempat. Tepatnya, Puskesmas di mana Sholihin tinggal yang disampaikan oleh Manteri  (pertugas kesehatan setempat-red), bahwa ada pengobatan yang lebih baik bagi penderita kusta dan mendapatkan penanganan serta perawatan intensif dari dokter spesialis.


    Yakni di Rumah Sakit (RS)  Kusta Kediri. Berbekal semangat yang menyala-nyala untuk segera sembuh dari kusta. Maka, Sholihin pun berangkat ke RS Kusta Kediri dan menjalani perawatan selama dua (2) tahun lamanya  di sana.


    Kala itu, jari-jemari tangan tangan Sholihin ini terasa kaku dan mati rasa. Ada bercak putih di tangan yang masih terlihat hingga sekarang ini.


    Selama perawatan di RS Kusta Kediri, tidak ada satupun keluarga yang sudi menengok dan menjenguknya. Sungguh tak terperikan perasaan dan hati Sholihin yang semakin gundah gulana.


    Bahkan, terlintas dalam benak Sholihin untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri saja.  Namun, dia berusaha untuk menepis kepedihan hidup yang dijalaninya dan berusaha untuk tetap melanjutkan kehidupan ini.


    Hingga akhirnya, bertemulah dengan jodohnya di RS Kusta Kediri. Kebetulan, Umirul Hariyadi yang kini menjadi istrinya itu, juga menderita kusta dan menjalani pengobatan di rumah sakit yang sama.

    Mulailah, benih-benih cinta bersemi dan tumbuh dengan suburnya. Hingga akhirnya pada tahun 1994, menjadi momentum terpenting dan terindah dalam hidupnya.


    Sholihin menikahi Umirul Hariyadi dan dikarunai 4 anak, yakni  Andini Wulandari, M Irul Fariji, M.Rafii. M Usai Holidi.



    Liku-liku kehidupan yang dialami Sholihin begitu pedihnya. Ketika akan menikahi Umirul yang kini menjadi istrinya, itu juga mendapatkan penolakan keras dari keluarganya.


    Sebab, sang istri ketika itu juga mengidap penyakit kusta dan berobat di RS Kusta Kediri. Sempat terjadi kontra dan hubungan yang tidak harmonis dengan keluarga sendiri.


    Begitu berat beban hidup yang diderita Sholihin, terlebih lagi dia memulai kehidupan bersama istri tercinta menjadi tukang penarik becak di Kediri. Sudah pasti, penghasilan pas-pasan dan terus bertahan untuk hidup.


    Lantas, dia mencari kontrakan di kampung dan tinggal bersama sang istri tercinta di sana. Warga setempat meminta surat keterangan sudah sembuh dan bersih dari bakteri kusta dari dokter RS Kusta Kediri. Kalau tidak, terpaksa harus keluar dari kampung sendiri.


    Hingga lahirlah anak pertama mereka bernama Andini Wulandari dan keluarga Sholihin barulah mengakuin, bahwa dia sebagai bagian dari keluarga. 

    Lagi-lagi, cobaan kembali menyapanya. Ternyata, anak pertamanya  ini memiliki tanda-tanda menderita kusta. Terlihat bercak putih di atas matanya. Lantas, Sholihin bergegas membawa anaknya berobat selama 6 bulan dan dinyatakan sembuh total dari penyakit kusta.

    Kendati, semula  Sholihin hanyalah berprofesi sebagai penarik becak. Namun berkat kegigihan dan keuletan yang luar biasa, hingga dia mampu membuka bengkel sendiri.

    Sampai pada lahirnya anak kedua, ketiga dan keempat. Mereka adalah M Irul Fariji, Moh. Rafi’I dam M Usai Holidi.


    Namun demikian, ada kebanggan tersendiri terhadap anak pertama, Andini Wulandari yang berhasil masuk kuliah dan diterima di ITS Surabaya jurusan Politeknik Perkapalan.

    “Saya sering membawa anak pertama saya itu, setiap kali ada sosialisasi tentang penyakit kusta,” ungkap Sholihin.


    Sholihin dan anaknya itulah menjadi motivasi bagi penderita kusta lainnya untuk berani melangkah dan menatap masa depan yang lebih baik. Bahwa, penderita kusta yang telah sembuh dari penyakit, tetap berhak atas masa depan yang lebih baik.

    “Kami ingin penderita kusta memiliki masa depan yang lebih baik dan sama dengan manusia normal lainnya,” tukasnya.


    Sholihin yang masuk dalam Kelompok Perawatan Dini (KPD) Kusta yang beranggotakan 35 orang dan kini menjadi Ketua KPD itu, memotivasi para anggota untuk tetap percaya diri dan mengubah hidupnya menjadi jauh lebih baik. Mereka harus berani menatap masa depan. 
    “Semua anggota KPD adalah orang-orang yang pernah mengalami sakit kusta. Saya ingin semua penderita kusta yang telah sembuh bisa diterima dengan baik dan dengan tangan terbuka oleh masyarakat setempat,” ungkapnya. (ded)


    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Kisah Hidup Moh. Sholihin Menginsprirasi Para Penderita Kusta Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas