Randy & David (Pelatih) serta peserta
Suasana latihan bela diri
SURABAYA (mediasurabayarek.com) - Unicombat Academy menggelar Defensive Tactics Seminar yang diikuti 27 peserta yang digelar di Mandiri Mansion di Jl Kertajaya Indah, Surabaya, Minggu (28/4/2019).
Randy Tumewa, Founder of Unicombat Academy ,menyatakan, kini semakin banyak masyarakat yang mengerti akan Krav Maga adalah salah satu sistem beladiri yang cukup ampuh dan efektif diterapkan di dunia nyata.
"Tak dikenal jurus-jurus tertentu yang harus dihafalkan oleh peserta didik, namun gerakan -gerakan alami dan reflek yang dilatih untuk kewaspadaan diri. Baik sebelum dan sesudah terkena ancaman dan cara menetralisirnya," ucapnya.
Menurut Randy, Unicombat Academi adalah salah satu sekolah yang mengenalkan seni bela diri 'Krav Maga'. Bukan hanya untuk kaum pria semata, namun sangat penting bagi kaum perempuan.
Bagi perempuan, Krav Maga ini manfaatnya sangat luar sekali. Sebagaimana kita lihat di media sosial maupun tayangan televisi yang menyiarkan berita tentang perempuan yang menjadi korban penodongan, pemerkosaan dan kejahatan lainnya.
"Oleh sebab itulah, betapa pentingnya kita belajar bela diri," kata Randy.
Sebenarnya, Krav Maga memiliki beberapa teknik bela diri untuk divisi militer, penegak hukum dan warga sipil. Ini tentunya teknik yang diajarkan untuk warga sipil berbeda dengan militer.
Warga sipil diajarkan bela diri untuk melumpuhkan dan melukai saja. Bukan untuk membunuh lawan. Teknik melatihnya, sudah pasti berbeda dengan melatih prajurit militer.
"Kami melatih di Kostrad Div II, Polrestabes Surabaya dan Polda Jatim ini. Juga melatih warga sipil. Kita masuk instansi dan sudah cukup lama. Untuk belajar di akademi ini memang ada biaya untuk pelatihan ," cetusnya.
Dijelaskan Randy, untuk pelatihan kelas reguler mulai Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per bulan. Itu tergantung berapa sesi latihan yang diambil per minggunya.
Sementara itu, David Krav, Founder of Kapap Indonesia mengatakan, bela diri untuk selamatkan diri sendiri dan bukan untuk menjadi juara.
"Mereka itu dilatih supaya bisa selamatkan diri ketika ditodong. Kalau bela diri ada rules atau peraturannya. Misalnya pertandingan karate, tidak boleh menendang kemaluan dan mencolok mata lawan. Namun berbeda dengan bela diri ini, kita bebas colok mata dan tendang kemaluan lawan. Terpenting adalah kita bisa selamat dalam kondisi terburuk," cetus David yang menjadi pelatih bela diri di Polda Metro Jaya ini.
Diungkapkannya, belajar teknik bela diri itu, juga membangun personal safety. AKan tahu apa yang diperbuat sebelum mengalami situasi yang berbahaya. Nantinya, akan memiliki kesadaran untuk mengantisipasi bahaya.
"Bukan sok jagoan. Para peserta yang menderita kelainan atau sakit harus menceritakan pada instruktur. Ini untuk mengatur latihan yang tepat untuk mereka. Sekalipun orang itu di kursi roda juga bisa dilatih," tukas David.
Tak hanya sekada berlatih bela diri, namun juga belajar teknik, belajar psikologis dan fisik. Fisik harus fit dan orangnya harus percaya diri. Kita latihan buat simulasi ketika menghadapi situasi yang sebenarnya. Ada teriakan di jalan dan ancaman, langkah apa yang harus segera dilakukan.
"Peserta dilatih membiasakan psikologisnya di bawah tekanan, makin dan sebagainya . Ada tingkatan penguasaan bela diri dari para peserta, mulai dari tingkat dasar, terampil dan mahir," tandas David.
Namun demikian, teorinya 50 jam akan bisa naik tingkat , namun jika tidak memenuhi persyaratan dengan mengikuti ujian tertentu. Kalau belum bisa menguasai betul, tidak bisa naik tingkatan.
"Itu semuanya tergantung seberapa rajin peserta mengikuti latihan. Kalau tekun dan serius, bisa 3 atau 4 bulan sudah bisa naik tingkat," katanya. (ded)


0 komentar:
Posting Komentar