728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 19 Mei 2019

    Sempat Jadi Gelandangan,Tapi Mampu Sekolahkan Anak Lulus D-III Akper



    SURABAYA (mediasurabayarek.com) –  Pahit-getirnya kehidupan telah dialami oleh Mukrim (64), asal Desa Blimbing, Kecamatan Blimbing, Lamongan ini. Tak tanggung-tanggung, pria yang menderita penyakit kusta ini sempat menjadi gelandangan di Surabaya.

    Ihwal cerita pedihnya kehidupan Mukrim ini diawali ketika dia mendapati dirinya mengidap penyakit kusta pada tahun 1986 silam. Lelaki yang hanya menyenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Desa Blimbing, Lamongan sudah tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi, karena keterbatasan biaya dari keluarganya.

    Lantaran, sakitnya tidak kunjung sembuh, sehingga dia berobat di Puskesmas Berondong , Lamongan. Selama enam bulan lamanya, Mukrim mengonsumsi obat dan menjalani perawatan.

    Namun, sakit Mukrim belum  dinyatakan sembuh total oleh dokter yang menangani penyakitnya tersebut.



    Menurut Mukrim, dia merasakan  mati rasa pada kakinya. "Tertusuk duri sekalipun, kaki saya ini tidak terasa sakit sama sekali," kenangnya.

    Badan ini, kata Mukrin, terasa panas dingin yang tidak kunjung sembuh setiap harinya. Puncaknya  ,    pada tahun 1986 lalu itu kondisi tubuhnya  langsung drop. Dia pun  dibawa keluarga  berobat di Rumah Sakit (RS) Tuban pada tahun 1988.

    Selama tiga tahun berobat di sana dan masih belum dinyatakan sembuh dari penyakit kusta yang dideritanya. Kemudian, dia berusaha kembali berobat di RS Kusta Kediri.

    "Penyakit itu sempat menyerang mata dan saya sempat dioperasi di RS Kusta Kediri," kata Mukrim.


    Selama berobat di sana, tidak ada keluarga yang menjenguknya ke RS Kusta Kediri. Tampaknya, tidak ada satupun orang yang menghiraukan nasibnya ketika itu.

    "Saya sangat sedih waktu itu,  mengingat saya terlahir sehat wal'afiat.   Karena lima saudaranya tidak ada satupun yang menderita kusta," ucap Mukrim yang didampingi istri tercinta, Siti Rokhayah (57).

    Mukrim yang terlahir dari pasangan Wartiyan dan Ahmar itu, masih bisa bersyukur. Sebab, empat saudaranya telah meninggal dunia.


    Selama perawatan di RS itulah, Mukrim ketemu jodohnya.  Kebetulan, Siti Rokayah yang kini menjadi istrinya itu, juga menderita kusta dan menjalani pengobatan di rumah sakit yang sama.

    Mulailah, benih-benih cinta bersemi dan tumbuh dengan suburnya. Hingga akhirnya membangun rumah tangga. 

    Dari perkawinan itu, mempunyai seorang anak bernama Laily Trisnawati yang menyelesaikan kuliahnya di program D-III Akademi Perawat (Akper)  Mojokerto. Setelah lulus, sang anak bekerja di Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya.

    "Kami bersyukur anak kami satu-satunya, Laily terlahir dalam keadaan sehat wal'afiat dan telah menikah dengan pria pujaan hatinya dan tinggal di Perumahan Puri Surya di Sidoarjo," cetus Mukrim.



    Selepas dari perawatan kusta di RS Kusta Kediri. Dia mulai bangkit dan membuang kenangan masa lalunya sebagai penderita kusta. Lantas, Mukrim mencoba peruntungan nasibnya dengan  bekerja di Surabaya.  Dia bahkan sempat menjadi gelandangan. Tak ada pekerjaan dan lontang lantung hidupnya, tak karuan.

    Pada akhirnya dia mencoba menjadi menjadi penarik becak dengan penghasilan yang sudah pasti kecil.  Gara-gara penghasilan tidak mencukupi kebutuhan hidup itulah, dia lantas ganti profesi sebagai penjual buah di Pasar Loak, Sepanjang.

    Akhirnya, dia tinggal di penampungan Perlindungan Pondok Sosial (Liponsos) Babat Jerawat, Surabaya, hingga sekarang ini. Selama hidup di Liponsos itu, Mukrim dan Siti Rokayah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berupa makan tiga kali sehari dan diberikan tempat tinggal di sana.


    "Sampai saat ini, saya masih tinggal di Liponsos Babat Jerawat itu. Saya berterima kasih pada Pemkot Surabaya, karena listrik dan air  digratiskan. Jadi, kami tidak perlu membayar tagihan listrik dan air PDAM setiap bulannya. Bantuan dan perhatian ini sangat membantu kehidupan kami," ungkap Mukrim.  

    Kini, dia membuka usaha warung kecil-kecilan di sekitar Liponsos dan berjualan  pakaian. "Dari hasil berjualan warung bisa mendapatkan  uang sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per harinya,"  tukasnya. (ded) 
    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Sempat Jadi Gelandangan,Tapi Mampu Sekolahkan Anak Lulus D-III Akper Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas