SURABAYA (mediasurabayarek.com) - Institut Teknologi (IT) Telkom Surabaya terus berupaya mempertemukan kebutuhan industri dengan pendidikan, pasalnya, pendidikan yang berorientasi pada dunia usaha menjadi daya tarik sendiri bagi mahasiswa.
Wakil Rektor II IT Telkom Surabaya, Ir. Tri Agus Djoko Kuntjoro MT menyatakan, IT Telkom Surabaya mencoba mengumpulkan kebutuhan dari industri pengguna lulusan perguruan tinggi, khususnya IT Telkom Surabaya.
“Apa sih kebutuhannya kita coba matchingkan itu, kita mencoba tahu kebutuhan keahlian apa yang dibutuhkan di industri-industri pengguna lulusan kami. Hal ini juga sebagai basis data untuk menyusun kurikulum kedepan,” ujarnya di sela-sela acara industrial gathering bertajuk Membangun sumberdaya manusia yang unggul di bidang maritim, transportasi dan logistik untuk menghadapi era industri 4.0 , beberapa waktu lalu
Dengan mengetahui kebutuhan dunia industri tersebut, menurut Tri Agus, IT Telkom akan menyiapkan lulusan yang sesuai sehingga ketika dibutuhkan di lapangan dan lulusan sudah siap bekerja.
Diakui Tri Agus, sejak berdiri 4 September 2018 lalu, banyak prestasi yang sudah dicapai oleh institusi, IT Telkom Surabaya kini telah mempunyai 7 program studi dengan bermuara pada tiga matra yaitu maritim, logistik dan transportasi.
IT Telkom Surabaya, lanjut Tri Agus, juga sudah bekerjasama dengan berbagai perusahaan, seperti Terminal Peti Kemas, Kobangdikal Angkatan Laut, JNE, Yakult Pertamina, POS, PLN, Semen Gresik dan lainnya.
“Kita sebagai perguruan tinggi tentunya juga kerjasama antar perguruan tinggi, kita ada kerjasama dengan ITS kemudian dengan UISI, kita juga tergabung dalam aliansi perguruan tinggi Badan Usaha Milik Negara,” ucapnya.
Pakar Logistis dan Transportasi Mahendrawati ER menjelaskan, industri 4.0 telah merambah ke semua lini. Tantangan sumber daya manusianya akan terjadi disrupsi, semuanya akan terotomasi sehingga ada beberapa bagian atau pekerjaan yang mungkin harus disesuaikan.
“Beberapa pekerjaan yang sifatnya hanya melakukan kegiatan-kegiatan fisik itu mungkin harus sudah diubah, mulai ditata karena kedepannya nanti yang lebih dibutuhkan adalah orang-orang yang lebih memahami tentang analisis dan bagaimana pengambilan keputusan,” katanya.
Di bidang transportasi misalnya, hasil survei manajer logistik di berbagai negara menyebutkan kalau mereka akan mengurangi operasional karena ke depannya akan mahal, kemudian akan digantikan dengan orang-orang yang lebih menguasai tentang hal-hal taktis dan strategis.
“Tetapi itu kan di luar sehingga kalau untuk Indonesia, inilah pentingnya dilakukan analisis tentang peta dari arah pengembangan ke depannya akan bagaimana, pemerintah sendiri dengan cetak biru making Indonesia 4.0 itu harus dipertimbangkan kondisi saat ini, kemudian yang diinginkan ke depan oleh pemerintah seperti apa proses transisinya,” cetusnya.
Pakar transportasi Endoyono menambahkan, untuk ke arah industri 4.0 lebih dulu disiapkan infrastruktur, mobilitas dan konektivitas.
“Kenapa hari ini kita berbicara tentang transportasi dan logistik karena memang satu-satunya jalan masuk menjadi industri 4.0 yang sebenarnya diawali dengan ketersediaan konektivitas,” ungkapnya.
Dia berharap, IT telkom bisa menjadi terbaik mensupport perkembangan Indonesia ke arah industri 4.0. (ded)

0 komentar:
Posting Komentar