SURABAYA (mediasurabayarek.com) - Dalam sidang lanjutan perkara perdata antara King Finder Wong (Penggugat) melawan Harijana dan PT Alimy (Tergugat) berlangsung seru di ruang Tirta 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.
Dalam sidang kali ini, Tergugat menghadirkan saksi Henry Adiyaja, dalam gugatan perdata No 1335/Pdt.G/2022/PN.Sby antara Penggugat King Finder Wong melawan Tergugat I Harijana dan Tergugat II PT Alimy, pada Rabu 5 April 2023.
Kuasa Hukum Penggugat, yakni Ir Eduard Rudy Suharto SH.MH menyebutkan, keterangan yang disampaikan oleh i saksi Henry itu wajib diabaikan oleh majelis hakim. Ini mengingat, dokumen yang dijadikan acuan bagi Henry untuk memberikan keterangannya, tidak diajukan sebagai alat bukti dalam persidangan.
“(Sejak) awal dia menerangkan punya dokumen dan punya alat bukti. Akan tetapi, setelah kita tanyakan dalam persidangan, dan disanggah oleh rekan saya apakah dokumen itu sudah diajukan sebagai alat bukti,? Ternyata dijawab kalau dokumen tersebut tidak pernah diajukan sebagai alat bukti. Dan Alhamdulillah, majelis melalui ketua majelis menyetujui dengan mengatakan di upload dulu saja dan diberikan waktu dua minggu bagi Henry menunjukan bukti tersebut,” ucapnya , Kamis (6/4/2023).
Adapun keterangan lainnya yang disampaikan oleh saksi Henry yang dianggap janggal menurut Eduard Rudy.
Bahwa saksi Henry yang mengatakan bahwa ada SPT Pribadi King Finder Wong yang menggunakan stempel dari PT Alimy.
“(Sebenarnya-red) Yang melakukan penyetoran dan pembayaran SPT itu siapa?. Bila yang membayar Henry dan Harijana, artinya yang melakukan stempel diduga palsu PT Alimy dengan akhiran Y adalah mereka sendiri. Jadi bukan klien kami yang berbuat. Saat membayar Henry atau Harijana membayar SPT mewakili PT, itu pidana, karena menggunakan Stempel PT Alimy, makanya Henry tidak berani mengajukan sebagai alat bukti, hanya disampaikan verbal. Begitu diajukan, langsung saya LPkan,” ujar Eduard Rudy.
Justru yang menjadi pertanyaan bagi Eduard Rudy adalah mengenai kapan King Finder Wong tanda tangan pembayaran SPTnya,? King Finder Wong tidak pernah membayar SPT atau pajak di PT, karena tidak pernah sama sekali ke kantor Alimij, atau kantor pajak.
“Itu berarti ada yang diduga memalsukan seolah-olah King Finder Wong yang tanda tangan dan bayar SPT dan King Finder Wong yang menyetempel SPT pakai PT Alimy,” katanya.
Sedangkan di persidangan itu dipertanyakan kuasanya Harry Suharto yang menggunakan Kop surat PT Alimy pakai Y, padahal PT sebelumnya adalah Alimj pakai J.
“Majelis hakim juga sudah mengatakan, kalau PT Alimj ini badan hukum, tidak bisa diubah-ubah seenak udelnya menjadi PT Alimy, terkecuali ada SK dari KemenkumHam yang menyatakan ada perubahan,” cetusnya.
Dalam keterangannya , saksi Henry yang menyebutkan, bahwa dia mengajukan penetapan kuasa pengelolaan perusahaan. Kuasanya itu dicurigai Eduard Rudy palsu hasil Scan, Kop suratnya juga PT Alimy pakai Y bukan PT Alimy pakai J.
Eduard Rudy menegaskan, sesuai undang-undang tentang Perseroan Terbatas, ini kan badan hukum.
"Mohon dicatat. Kalau anda mendapatkan kuasa dari orang yang tidak kenal saudara dan anda bukan pemegang saham atau orang luar di sebuah Perseroan Terbatas itu adalah pelanggaran hukum pidana. Kenapa? karena dia dengan menerima Kuasa mutlak telah mengelola Perseroan tanpa melalui proses-proses Perseroan terbatas yang ditetapkan yaitu memberitahu kepada pemegang saham lainnya, bukan mengundangnya," ungkapnya.
Padahal, seharusnya si pemegang kuasa pengelolaan sebuah Perseroan Terbatas memberitahu pada para pemegang saham sebelumnya kalau mendapat data, mendapatkan kuasa pengelolaan Perseoran Terbatas sampai pada izin pengelolaan perusahaan dari ahli waris bukan dari pemegang saham lainnya.
“Oleh sebab itulah, ketika saya maju ke meja majelis hakim, Pak Ketua majelis hakim mengetahui maksud saya saya dan mengatakan kalau penetapan yang dipegang Harijana masuk pada keterangan waris umum bukan waris tetang Perseroan Terbatas yang mempunyai kekhususan. Waris Perseroan Terbatas berbeda dengan waris biasa,” tukas Eduard Rudy.
Bila Harijana atau Feni Okadjaja menerima waris Pengelolaan Perseroan Terbatas, sementara Waris asli dari Aprilia Okadjaja menolak. Maka sesuai mekanisme yang boleh adalah Harijana diangkat dulu sebagai pemegang saham, lalu memberitahu pemegang saham lama dan ahli waris Harijana yang awalnya menolak.
Perihal sebuah tolak waris itu tidak mudah, apalagi kalau pewaris punya turunan, punya keluarga dan punya saudara.
Eduard Rudy menggarisbawahi, bahwa mereka harus diangkat dulu, tidak bisa muncul begitu saja namanya lalu mengadakan RUPS karena delusi. Jikalau demikian, berarti ada kecurangan .
"Makanya saya selalu tanyakan delusinya bagaimana, apakah Henry datang, melihat dan mengetahui tapi dijawab tidak tahu. Perseroan itu kalau mau mengubah saham harus ada satu persetujuan dari pemegang saham lainnya, berhubung King Finder Wong masih hidup diberitahu dulu Pak King kita akan jual sahamnya. makanya saya tidak tanya apakah Pak King Finder Wong diundang atau tidak pada saat RUPS. Yang saya tanya Pak King diberi tahu atau tidak kepastian bahwa saham perusahannya ini akan di berikan ataupun dialihkan. Atau paling tidak diumumkanndi koran bahwa saham Perseroan ini dijual pasca Delusi,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Eduard Rudy sekaligus mempertanyakan alasan ahli waris Almarhum Aprilia Okadjaja menolak waris.
Sebagaimana diketahui, Almarhum Aprilia Okadjaja itu punya 5 saudara, ke 5 saudaranya ini semua sudah dapat warisan dari Ayahnya di Amerika. Pada saat ini usia mereka sudah 77 tahun, sudah jompo tidak bisa melakukan kegiatan
Kini yang mengganjal dan menjadi pertanyaan adalah, mana mungkin mereka tidak mau menerima uang warisan dari Aprilia Okadjaja sementara mereka hidup dalam kondisi jompo mengandalkan medapatkan biaya hidup dari uang negara, sementara di satu sisi mereka membuat tolak waris.
“Semestinya dan seharusnya mereka melalui Duta Besar Amerika diberitahu ada penolakan waris. Hukum di Amerika itu tegas terhadap warga negaranya. Contoh ada teman saya yang main Lotre kemudian dia menang. Karena dia selama ini tidak bekerja dan menganggur dan kehidupannya di biayai oleh negara, maka begitu dia akan menggelar Pesta kemenangan Lotre, dia ditangkap dan seluruh uang kemenangan Lotrenya disita oleh negara, sebagai uang pengganti selama dia menganggur dan hidupnya dibiayai oleh negara. Saya berani menyatakan seperti itu karena saya pernah ke Amerika dan anak saya menjadi warga negara Amerika," katanya.
Eduard Rudy juga menjelaskan , tentang Pohon Keluarga buatan Henry yang menyatakan bahwa Harijana adalah cucu dari Almarhum Aprilia Okadjaja.
“Namun demikian, setelah dibuktikan di Polres ada. Aprilia Okadjaja itu tidak suka tidak senang sama Harijana. Sesempurna apapum suatu kejahatan ditutupi, pasti suatu ketika ada celah kebenaran yang bisa kita ungkap,” tegas Ir Eduard Rudy Suharto SH MH. (ded)

0 komentar:
Posting Komentar